Old Normal, New Normal & Next Normal

Akhirnya istilah new normal sampai juga ke negara kita, setelah negara-negara lain sudah lebih dulu mengedukasi masyarakatnya kepada konsep tersebut. Istilah ini sendiri populer sejak tahun 1998 ketika krisis ekonomi global dunia.

Gambaran yang sederhana begini. Bayangkan keadaan kita sebelum Ramadhan, yang bebas makan minum di siang hari, shalat sunnah seadanya dan tilawah pun dua kali dalam sepekan sudah bagus. Hidup yang berjalan begitu saja tersebut dinamakan old normal.

Sampai akhirnya kita bertemu bulan suci, maka kita dipaksa untuk menahan lapar dan haus pada siang hari, shalat sunnah puluhan rakaat ketika malam dan memikiki target tilawah harian. Meski semua dilakukan setengah terpaksa, mau tidak mau kita menjalankannya.

Itulah yang disebut new normal. Jalani saja dulu, nanti juga beradaptasi. Mau bagaimana lagi, puasa adalah kewajiban bagi setiap muslim. Tarawih dan tadarus terasa rugi kalau ditinggalkan karena pahala yang dijanjikan besar sekali.

Fase berikutnya diharapkan terjadi di bulan Syawal dan seterusnya. Yaitu yang disebut next normal. Inilah diri kita dengan kehidupan yang sudah terbiasa pada pola Ramadhan.

Kita menjadi pribadi yang sederhana dalam hal makanan, rajin mendirikan shalat-shalat sunnah dan disiplin menyelesaikan target tilawah Al-Quran.

Sudahkah kita menjadi demikian? Jika iya, itu artinya kita sukses masuk kepada tahap next normal. Menjadi muslim pada derajat takwa yang tumbuh lebih tinggi.

Tetapi jika kehidupan kita kembali lagi seperti sebelum bulan puasa, itu artinya kita balik menjadi old normal lagi. Menjadi manusia bebal yang tidak mau berubah, bahkan oleh pendidikan sekelas Ramadhan sekalipun.

Nah, itulah penjelasan sederhananya. Giliran Anda tinggal seusaikan saja pada konteks yang lebih besar. Old normal adalah fase di mana pandemi Covid-19 belum datang.

Dan new normal adalah gaya hidup yang beradaptasi dengan pandemi. Ingat bahwa ini masih setengah jalan, karena kita harus tumbuh menuju next normal.

Bersiaplah. Jangan menunggu. Jangan terlambat. Karena Rasulullah mengingatkan kepada kita agar lekas melakukan persiapan sebagaimana hadist dalam riwayat Bukhari,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ

“Apabila engkau berada di petang hari, maka jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, maka jangan menunggu petang.”

Salam Bertumbuh.
⏰ Ada rezeki baru jika kita mau mencoba kehidupan baru!

Source: Channel Telegram Ustadz Arafat

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *