Polemik Shalat Tarawih Berjamaah Disaat Wabah Virus Corona

Wabah Virus Corona Covid-19

Sebenarnya saya tidak berkompeten untuk memberi tanggapan masalah sholat tarawih berjamaah di tengah wabah virus corona ini. Yang secara akademik, masalah ibadah dan virus bukanlah bidang keilmuan saya. Tapi saya juga yakin, kebanyakan dari kitapun bukan ahlinya di bidang ini. Untuk itu tentu lebih bijak kalau kita bertanya kepada orang yang lebih ahli dan diakui keilmuannya.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Q.S. An-Nahl, Ayat 43)

Siapa yang orang yang berilmu dan ahli di bidang ini? Menurut saya kita tidak perlu repot-repot browsing sana-sani buka youtube mencari-cari informasi yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kita hidup sebagai bangsa yang bernegara, sudah menjadi kewajiban negara melindungi warga negaranya. Pemerintah sudah menyatakan kalau Corona adalah bencana nasional, himbauan-himbauan untuk mencegah penyebarannya pun sudah beredar dimana-mana. Mulai dari Gubernur, Bupati, Walikota, Kecamatan, Kelurahan pun sudah membuat surat edaran untuk mencegah penyebaran virus ini, salah satunya adalah larangan berkumpul.

Terkait masalah berkumpul dalam penyelenggaraan ibadah pun, MUI dan Kementerian Agama selaku lembaga tertinggi yang berwenang sudah mengeluarkan himbauan dan fatwa untuk tidak sholat berjamaah di masjid. Jangankan sholat tarawih yang secara hukum sunnah yang artinya kalau dilakukan lebih baik dan kalaupun ditinggalkan tidak berdosa, Sholat Jum’at yang hukumnya wajib berjamaah pun di himbau untuk tidak dilaksanakan.

Sebenarnya bukan perkara kita harus meninggalkan sunnah, tapi lebih kepada mudharat yang harus kita hindarkan dan menghindarkan orang lain dari mudharat.

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain” (H.R. Imam Ahmad)

Jadi sebetulnya kita bukan meninggalkan sunnah, tapi kita cuma berpindah dari sunnah satu ke sunnah yang lainnya, dalam hal ini kita meninggalkan sunnah tarawih berjamaah dengan menjalankan sunnah nabi untuk menghindari diri kita dan orang lain dari mudharat wabah virus corona.

Dan menurut saya ini juga bukan perkara berani tidak berani ya, soalnya banyak juga yang berpendapat “Saya tidak takut sama corona, saya cuma takut sama Allah”. Hahaha.

Salut sih sama keberaniannya, iman nya sudah tebal. Tapi iman bukan cuma di ucapankan harus dibuktikan. Coba yang ngomong begini buktikan imannya. Cari Masjid yang posisinya di pinggir jalan yang ramai dan padat, berdirilah di seberang masjid, niatkan mau beribadah di rumah Allah, ucapkan bismillah, langkahkan kaki kanan, tidak usah lihat kiri-kanan, jalan aja santai nyebrang jalan, kalo niatnya karena Allah pasti ditolong, pasti sampai keseberang dengan selamat. Hahahah.

Tidak begitu juga kali ya menafsirkan keberanian di jalan Allah. Kalo memang sperti itu cara menafsirkannya mungkin nabi dan sahabat dulu saat berperang menyebarkan agama Allah tidak perlu pakai strategi, main hajar aja, toh di jalan Allah, pasti Allah selamatkan.

Kalo ngomong masalah berani mungkin sayyidina Umar orang yang paling berani. Masa mudanya beliau adalah jawara gulat tidak terkalahkan. Nabi Muhammad menyebarkan islam di awal-awal masa kenabian secara sembunyi-sembunyi, di hari pertama sayyidina Umar bersyahadat, beliau meyakinkan nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan islam secara terang-terangan. Tidak ada rasa takut nya, saking beraninya, jangankan manusia, bangsa jin pun lebih memilih jalan lain dari pada harus berpapasan dengan sayyidina Umar.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Ibnul al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui.”

Tapi ketika dalam perjalan menuju negeri Syam, dan ditengah jalan dikabarkan bahwa daerah yang akan dilewati sedang tertimpa wabah. Sayyidina Umar yang pemberani lebih memilih memutar balik dan mencari jalan alternatif.

Orang yang sangat berani seperti sayyidina Umar, sahabat nabi, dijamin surga, lebih memilih menghindari wabah. Terus kita ini yang tidak ada apa-apanya, bukan sahabat nabi, surga belum dijamin, kok berani? Hahaha

Mohon maaf ya sebelumnya, tidak ada maksud menggurui hanya pendapat dari orang awam.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *