RAMADHAN MASIH TIDUR, TERUS BANGUNNYA KAPAN?

“Ramadhan itu Syahrul Qiyam bukan Syahrun Niyam” ~ Ust. Arafat

Jangan menganggap tidur adalah hal biasa. Sebab Al-Qur’an menceritakan kisah istimewa tentang tidur ini sekurangnya dua kali, dan keduanya dikaitkan dengan para hamba-hamba Allah yang saleh.

Pertama dalam kisah Nabi Uzair, beliau dibuat tertidur oleh Allah selama seratus tahun. Kemudian sang Nabi ditanya tentang tidurnya, yang dikisahkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 259,

فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

Maka Allah mematikan (menidurkan) orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, “Berapakah lamanya kamu berada di sini?” Ia menjawab, “Saya berada di sini sehari atau setengah hari.”

Nabi Uzair tidak menyangka bahwa sebenarnya ia tertidur selama seratus tahun, karena menurut perasaan pribadinya ia hanya seperti tidur satu hari atau setengah hari saja.

Begitupula kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun di dalam gua. Mereka pun saling bertanya berapa lama kiranya mereka tidur, seperti dalam Surat Al-Kahfi ayat 19,

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka, “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.”

Anehnya, meski para pemuda beriman tersebut tertidur tiga kali lebih lama dari Nabi Uzair, namun perasaan mereka seolah-olah sama saja yaitu satu hari atau setengah hari.

Tampak benar pesan yang ingin disampaikan pada kedua kisah tersebut, bahwa berapa lamanya kita tidur tetap saja kita merasa seolah-olah waktunya sama saja.

Ambil pesan ini untuk kita, agar jangan kebanyakan tidur. Kalau perasaan yang kita alami sama saja antara tidur sebentar maupun tidur lama, bukankah lebih baik kita tidur sebentar. Sehingga waktunya dapat digunakan untuk hal lain yang lebih bermakna.

Terutama di bulan Ramadhan, tidurlah secukupnya saja untuk memenuhi hak tubuh beristirahat. Waktu senggang yang masih ada, sibukkan dengan aneka ibadah yang pahalanya sedang berlipat ganda di bulan ini.

Karena Ramadhan adalah Syahrul Qiyam (bulan perbanyak shalat) bukan Syahrun Niyam (bulan perbanyak tidur).

Salam Ramadhan,
⏰ Waktunya menjamu dia yang dinanti kedatangannya selama sebelas bulan!
Sumber: Ustadz Arafat

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon20
Tweet 20
fb-share-icon20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *